Dari perbincangan semalam dengan seorang pedangang "Nasi Goreng Keliling", sebut saja "Pak Deden". Sebelah mata orang memandang dia gak berpendidikan, orang desa, intinya rendahan-lah. Tapi dibalik profesinya itu, Dia sosok seorang yang tegar, jujur, sabar & pekerja keras.
Awalnya tidak ada obrolan yang terlalu penting atau bisa dibilang berbobot-lah, ngalor ngidul kemana aja sambil makan Nasi Goreng buatannya. Lama-kelamaan hari semakin larut, akhirnya kita mulai perbincangan yang rada menyangkut pengalaman hidup. Widih... mantap euy, kayaknya seru nih... "sok tua gak sih :P hehehe..."
Mula-mula Dia bercerita tentang pertama kali datang ke Jakarta th.1974 (aduh... aku belom lahir tuh) dengan membawa bekal dua rangkap baju yang dikenakannya dan uang seadanya, sampai sekarang Dia bisa bertahan hidup di Jakarta. Suatu ketika Dia memiliki Istri (sebut saja Lilis) pada th.1985, dan memiliki 2 orang putra.
Karena keadaan perekonomian keluarga yang serba kekurangan, pada th.1999 istrinya meminta izin untuk menjadi seorang TKW. Setelah perbincangan yang cukup lama, akhirnya Pak Deden memberikan izin istrinya untuk menjadi seorang TKW yang akan diberangkatkan ke Arab Saudi.
Awalnya, kesedihan seorang suami yang ditinggal istrinya pergi ke negara seberang sangat terasa. Huhuhu... jd sedih :( Tapi lama-kelamaan kesedihan Pak Deden pudar, itu karena kepercayaan Dia akan janji yang tlah diucapkan istrinya. "Aku pergi gak lama kok, nanti Aku pulang kalau sudah 4 tahun. Aku pergi bekerja untuk membantu membangkitkan perekonomian keluarga, semua ini demi kita dan anak kita." ucap istrinya.
Satu tahun... Dua tahun... Tiga tahun... Empat tahun...
Akhirnya waktu yang dinanti-nanti tlah tiba :) Dia coba menghubungi istrinya melalui pesawat telpon, kring... kring... Halo, bisa bicara dengan Lilis ? .... Dimulailah perbincangan dengan istrinya, Pak Deden mencurahkan segala rasa kangennya. "Sayang, kamu dah bisa pulang dong ?" tanya Pak Deden. "Waduh, maaf banget sayang... Aku blm bisa pulang thn ini, Aku harus melanjutkan 4 tahun lagi. Sabar yah sayang, nanti Aku pasti pulang untuk kamu dan anak kita" ucap Lilis tergesa-gesa (karena tarif telponnya mahal).
Kesedihan kembali menerjang... Tapi dengan kesabaran Pak Deden, akhirnya Dia bisa tenang. Selain mengurus anak-anaknya seorang diri, Dia juga harus mencari uang untuk membiayai anak-anaknya sekolah (Sungguh berat beban yang harus dijalani oleh Pak Deden).
Empat tahun berlalu sampai akhirnya sekarang sudah th.2007, sungguh sebuah kesabaran dan kebesaran hati yang tak bisa dibayangkan (Salutt euy...).
Pak Deden kembali menghubungi istrinya melalui pesawat telpon, kring... kring... Halo, bisa bicara dengan Lilis ? ... "Lis, Aku kangen banget sama Kamu :( tahun ini Kamu pulang kan ?" tanya Pak Deden. Dengan terbatah-batah, Lilis berkata "Eemmm... Mas, maaf Aku gak akan pulang lagi ke Indonesia. Aku sudah betah disini, aku juga sudah memiliki pengganti Mas Deden yang lebih bisa Aku harapkan. Aku gak bisa hidup bersama Mas Deden dengan perekonomian yang serba kekurangan. Maaf Mas... Lupakan Aku yang tlah mengecewakanmu, yang tak tepati janji. Tolong rawat anak-anak kita sampai mereka besar nanti. Terimakasih atas kesabaran Mas Deden yang slalu menjaga dan merawat anak-anak, dan juga slalu menanti Lilis pulang ke Indonesia". Dengan setengah putus asa, Pak Deden berkata "Ya sudah lah... Aku bisa ngerti. Aku sudah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Aku pasti akan merawat anak-anak sampai mereka besar nanti, karena itu tanggung jawabku. Baik lah... kita akhiri saja percakapannya. Aku hanya mau katakan, Aku akan slalu menanti Kamu kembali bersamaku. Terimakasih... Asslmkum..." Huhuhu.... sedih banget :(
Sampai akhirnya sekarang Pak Deden harus membesarkan anak-anaknya dengan berjualan Nasi Goreng Keliling, hidup sendiri tanpa istri yang mendampinginya. Sungguh sebuah kesabaran, kejujuran, kebesaran hati dan ketegarannya.
Sungguh perjalanan hidup yang sangat sulit, sebagian orang-pun belum tentu dapat se-tegar dan se-sabar Pak Deden.
Percakapan-pun berakhir, setelah se suap nasi terakhir masuk ke mulutku.
Aku salut sama Pak Deden, salut akan kesabarannya untuk menjalani setiap cobaan hidup. Malam ini Aku mendapatkan pengalaman hidup yang sangat berarti dari Pak Deden, dan itu akan Aku jadikan pelajaran untuk Aku slalu sabar.
Tapi tiba-tiba... Muncul banyak pertanyaan gila di otak ku.
Adakah yang salah ?
Siapa yang harus disalahkan ?
Haruskah kita menepati janji ?
Haruskah kita egois ?
Apakah dengan sabar kita akan menerima kesedihan mulu ?
Apakah sabar itu ada batasnya ?
Halah... pokoknya sekarang Aku harus bisa jadi orang sabar, se-sabar Pak Deden menjalani cobaan hidup yang cukup berat.
Hikmah yang Aku dapat juga, jangan pernah memandang orang sebelah mata atau hanya melihat luarnya saja, belum tentu dia seburuk yang kita kira. Itu-lah... kenapa Aku lebih suka berbincang dengan orang yang lebih tua.
Bagaimana komentar Anda ? Oh ya... ini kejadian NYATA loh ?
Thursday, June 7, 2007
Adakah Yang Salah ?
Sumber: Sukma
Label: Ayo Baca
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



12 Komentar:
pengalaman hidup orang2 sederhana itu kadang lebih patut diceritakan ketimbang kita, pernah aku dan temanku trenyuh dengar ibupenjual kemoceng yang harus jalan 8 km tiap hari untuk sedikit rupiah
Kasihan banged sih pak deden sampe ditinggal istrinyapun masih sabar.
tapi memang berat jadi orang sabar itu.
Belajar menjadi sabar, belajar menepati janji dan belajar dari pengalaman, rasanya itulah hikmah yang patut diambil.
Re: Afin
Bener mbak... jd kita gak boleh mandang orang dari luarnya aja :) belum tentu dia seburuk yg kita kira :)
Re: Pelangi
Setuju mbak... berat banget jd orang sabar :) itulah cobaan...
Re: Vie
Good comment... pengalaman memang guru yg paling baik :)
hidup ini pilihan..
dia mau kembali/pulang ato tidak,,
dia (yg laen lg) mo sabar, marah, ngbales, ato yg nglakuin yg laennya lg,,
smuanya tinggal dipilih
tiap keadaan, wkt, tmpat, qt sll dihadapkan pd pilihan2..
tiap pilihan ada resiko/konsekuensinya..
tinggal qt mo pilih yg mana, yg terbaik
Aduh ..terharu euy baca kisah hidup pak Deden, setia banget yach menanti Lilis pulang.
haruskah kita menepati janji ?? kalo buat aku yach iya, janji itu harus ditepati.
gak habis pikir Lilis kok yo tega2nya sich meninggalkan suami yg setia dan anak2nya..ohh.teganya ..teganya dirimu Lilis .. :-((
sedih yah... :((
bisakah gw sesabar itu? sesetia itu?
hauauhauua!!! sabar yah Pak Deden!!
Re: Borneo-Pkl
"tiap pilihan ada resiko/konsekuensinya" setuju banget dngn pernyataannya :) tks commentnya
Re: Sari
Bener Jeng, tega banget yah :(
Re: Verlita
Harus dong... gw tau loe pasti bisa...
harga nasi gorengnye brapa cil...???
iye cil...harga nasi gorengnye brape cil..
rasanya sama ga ama nasi goreng si didi cil?
hehehehehehehe.....
Post a Comment